Pagi ini Jakarta mendung. Semua orang mulai sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah, ke kantor, ataupun ke pasar bagi ibu-ibu yang mau belanja. Tapi, Tara cewek pemales yang satu ini belum juga bangun dari mimpinya.
” Ra…cepetan bangun! Udah jam setengah tujuh nih, sampe kapan elo mau tidur?” Ervan berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar adiknya. Tapi di dalam kamar, Tara malah semakin meringkuk di balik selimut.
” Heh… elo tu ya, anak cewek pemales banget sih? Cepetan bangun! Ntar gue juga telat gara-gara nungguin elo. Gue ada kuliah pagi nih.” Ervan terus mengoceh tapi Tara malah nggak nyahut-nyahut. ”TARRRAAAA…..!!!!!” teriak Ervan saking jengkelnya sama anak yang satu ini.
”Uhgt…apaan sih? Gue masih ngantuk banget kak.” Akhirnya Tara nyahut juga.
”Sekarang udah jam setengah tujuh bego!”
”WHAAATTT???” Tara yang lagi ngelap ilernya langsung kaget begitu nyadar kalau udah jam setengat tujuh. Dia langsung ngambil handuk dan lari kocar-kacir ke kamar mandi.
”Cepetan mandinya! Gue tunggu elo di bawah.” Lelaki berwajah tampan itupun langsung pergi meninggalkan pintu kamar adiknya.
***
”Mana Tara?” Tanya bunda ketika melihat Ervan turun dari tangga.
”Baru mandi.” Ervan duduk di meja makan bersama ayah dan bundanya.
”Adik kamu itu cewek tapi pemalas banget sih.” Ayah geleng-geleng kepala mikirain kelakuan anak bungsunya.
”Ini bunda udah siapin roti buat kamu.” Bunda menyodorkan piring berisi roti tawar isi coklat untuk Ervan.
Beberapa saat kemudian Tara turun dari tangga dengan hentakan kaki yang sangat berisik. Maklumlah dia lari saking buru-burunya. Sontak ayah, bunda, dan Ervan memperhatikan polahnya yang kalang kabut.
” Tara, kamu kok lari-lari sih?” Bunda heran melihat anak perempuannya.
” Maaf, habis buru-buru sih.” Tara mengambil roti di piring Ervan dan langsung menarik-narik Ervan. “ Kak, ayo cepet anterin! Gue udah telat nih.”
Kakak beradik itupun langsung bergegas meninggalkan rumah. Mereka naik motor vario hitam dan langsung tancap gas ke tujuan. Tara ke SMA Pelita dan Ervan ke kampusnya.
***
Pak Kadir yang bekerja sebagai satpam sekolah sudah siap untuk menutup gerbang. Tapi Tara yang baru aja turun dari motor langsung teriak-teriak supaya gerbang jangan ditutup dulu.
“Pak Kadir…jangan di tutup pak!” Dari seberang jalan Tara berteriak-teriak. Dia lari tanpa memperhatikan kanan-kiri. Alhasil Tara kesrempet motor. Dia jatuh sampai lututnya berdarah. Namun dia tak memperdulikannya. Tara langsung berlari sebelum gerbang sekolah ditutup.
“Cepetan neng!” Pak Kadir berseru pada Tara.
Setelah berjuang keras, akhirnya Tara sampai juga di kelasnya. Untung gurunya belum dateng. Jadi Tara nggak perlu disuruh keliling lapangan dulu.
Sementara itu, cowok yang tadi nggak sengaja nabrak Tara adalah Reno. Cowok angkuh, galak, sombong, yang sok jadi preman sekolah. Reno sebel banget gara-gara Tara nggak liat-liat waktu nyebrang tadi. Hampir aja dia ikut-ikutan jatuh gara-gara nyrempet Tara.
***
Waktu istirahatpun tiba. Tara segera pergi ke UKS untuk mengobati lututnya. Saat dia membelok di tikungan perpustakaan tiba-tiba”GUBRAK” Tara jatuh karena nabrak orang.
”Eh…elo nggak punya mata ya?” Reno langsung naik darah setelah di tabrak oleh Tara. Tara yang masih terduduk di lantai langsung bangkit.
”Eh…elo yang nggak punya mata. Jelas-jelas mata gue di sini. Masih nanya juga lo.” Tara menunjuk kedua matanya.
“Eh,elo cewek yang tadi nggak sengaja gue srempetkan?” Dahi Reno mengernyit.
“Owh…jadi elo yang buat lutut gue jadi berdarah-darah gini.” Tara menunjukan lututnya yang berdarah gara-gara jatuh kesrempet tadi.
”Salah sendiri kenapa nggak liat jalan. Dasar nggak punya mata.” Reno malas menanggapi cewek yang menurutnya rese kayak si Tara. Dia pun langsung berjalan pergi tanpa memperpanjang urusan lagi.
”Huh…dasar cowok sok preman. Gue bales nanti” Seru Tara sebal.
***
Tepat pukul dua siang, bel sekolah berdering. Murid-murid berlarian pulang karena mendung sudah menggantung di langit. Namun Tara malah sibuk ngurusin iuran buat beli perlengkapan kelasnya. maklumlah karena Tara jadi bendahara teladan di kelas. Dia ngitung-ngitung semua uang dan membuat rincian mau beli apa aja.
Di sisi lain Reno juga belum pulang. Dia masih ada di kelasnya. Ngapain lagi di dalam kelas waktu pulang sekolah kalau bukan untuk nyelesaiin hukuman dari pak Ricardo. Beliau adalah guru bahasa Indonesia yang super killer. Gara-gara Reno nggak ngumpulin tugas membuat puisi tepat waktu, dia jadi di suruh nyalin puisi sebanyak lima puluh kali. Itu aja masih mending lima puluh. Si Ridho anak kelas sebelas D disuruh nyalin seratus kali. Tapi walaupun lima puluh kali, itu udah cukup membuat tangan preman yang satu ini jadi pegel.
Setelah menit demi menit berlalu, akhirnya Tara dan Reno selesai dengan tugas masing-masing. Namun sialnya hujan malah turun deras banget. Alhasil mereka harus nunggu hujan reda karena mereka sama-sama nggak bawa payung ataupun jas hujan.
Reno nunggu hujan reda sambil duduk-duduk di depan kelasnya. Ia memandang lapangan basket sambil melamun. Tapi tiba-tiba seseorang menendang kakinya yang selonjoran di lantai.”DUUUUKK!”
”Aow…sorry disengaja.” Tara lewat dengan tampang meledek.
“Heh…dasar sialan lo.” Reno mengejar Tara yang kabur.
Karena Tara nggak tahu mau lari kemana, ia pun berlari ke tengah lapangan basket. Derasnya hujan nggak jadi masalah buat dia untuk bisa lari dari si preman galak itu. Karena Reno ogah basah-basahan, diapun menghentikan langkahnya.
”Heh…preman gadungan, sini lo kalau berani.” Di tengah derasnya hujan Tara menantang Reno yang berhenti mengejarnya.
”Buat apa gue harus kesitu? Kaya kurang kerjaan aja.” Balas Reno ketus
”Kenapa? Anak mami takut atit gara-gara hujan-hujanan ya? Uhgt…kacian.” Tara terus meledek si Reno. Reno akhirnya jadi kebujuk ajakan Tara buat hujan-hujanan. Reno melesat untuk mengejar Tara. Entah apa yang akan dilakukan Reno pada Tara jika berhasil mengkapnya.
Karena panik Tara langsung mengeluarkan langkah seribunya. Dia mikir kalau udah ketangkep Reno pasti nggak bisa lepas. Dia juga bayangin kalau sampai ketangkep pasti bakal ditoyor abis-abisan.
”GUBRAK!” Tara jatuk kepleset. Dia terbujur sok kaku di tengah lapangan. Untung nggak ada yang luka. Tapi karena dia takut ketangkep Reno, akhirnya dia jadi pura-pura pingsan. Reno yang ngelihat Tara jatuh dan nggak bangun-bangun langsung panik. Dia menghampiri Tara yang terpejam.
”Heh…elo kenapa?” Reno mengguncang bahu Tara. Tara yang dag-dig-dug dari tadi jadi semakin keukeuh buat pura-pura pingsan.
”Tara…lo nggak kenapa-napakan? Jangan sampai elo mati cuma gara-gara kepleset doang.” Reno semakin panik karena Tara nggak jawab-jawab.
Akhirnya Reno membopong Tara. Tadinya Reno mau membawanya ke UKS, tapi UKSnya udah dikunci. Tara jadi semakin deg-degan karna Reno malah bawa Tara ke kelasnya. Dia takut cowok gila ini ngapa-ngapain.
Reno yang nggak tahu mesti ngapain jadi bingung sendiri. Dia mengeluarkan sapu tangan dalam tasnya. Dan mengusap wajah tara.
”Cewek sinting, elo jangan bikin gue panik gini dong. Lo bikin gue jadi sial banget sih.” Reno menggrutu. Ia mengobrak-abrik isi tas Tara, berharap menemukan alamat rumahnya. Dan benar saja, di dalam tas ada kartu nama Tara.
”Jalan Merpati nomor 27. Oke gue anter elo pulang.” Reno membopong Tara dan mengantar Tara pulang dengan motornya.
Di sepanjang perjalanan Reno terus memegangi tangan Tara yang melingkar di pinggangnya supaya nggak jatuh. Tara jadi deg-degan banget. Sementara Reno juga jadi salting sendiri.
***
”Makasih udah anterin Tara pulang.” Ucap bunda pada Reno.
” Iya tante,sama-sama. Saya pamit dulu.” Reno langsung pulang kerumahnya setelah berpamitan pada bunda.
Di kamar, Tara bangun dari pingsannya yang pura-pura. Ia nggak percaya banget dengan apa yang dirasakannya tadi. dia langsung jingkrak-jingkrak kegirangan. Apa sih yang terjadi sama si Tara? Kok jadi aneh gini.
Malemnya, Reno dan Tara sama-sama nggak bisa tidur gara-gara ngerasain perasaan aneh dalam hati mereka. Mereka nggak nyangka dengan apa yang mereka alami saat hujan tadi.
Tahu nggak, sebenernya Tara sama Reno udah kenal sejak TK. Tapi mereka nggak pernah akur. Nggak tahu karna apa. Tapi sekarang mereka kok jadi gini sih?
***
Keesokan harinya Tara berangkat sekolah seperti biasa walaupun agak pilek dikit. Dia bersin-bersin karna hujan-hujanan kemarin. Tara terus mengelap hidungnya yang meler dengan tisue.
Tara berjalan menuju gerbang sekolah untuk pulang. Gerimis mulai mengguyur Jakarta lagi. Saat melewati perpustakaan dia langsung panik gara-gara papasan sama Reno. Tara jadi minggir ke tembok. Namun Tara semakin panik liat tangan reno yang menenpel di tembok untuk menghadangnya.
”Elo…elo…ma…mau ngapain?” Mendadak Tara jadi gagu.
”Gue cuma mau ngecek keadaan elo. Elo nggak luka gara-gara kepleset kemarin kan?” Reno jadi berubah seratus tujuh puluh sembilan derajat gara-gara kelakuanya yang sok care.
”Heh…gue nggak apa-apa kok. HASYIIII.” Tara bersin hingga ludahnya muncrat ke muka Reno. ”Sorry…sorry…sumpah gue nggak sengaja.” Tara mengelap muka Reno dengan tisue yang ada di saku seragamnya.
Ketika Tara sibuk membersihkan muka Reno dari semburannya, tiba-tiba tangan Reno memegang pergelangan tangan Tara yang lagi ngelapin dia. Adegan sinetronpun di mulai.
”Ren…elo kenapa?” Tara heran liat kelakuan Reno yang semanis ini. Liat Reno yang tersenyum Tara jadi terpesona.’ Reno cool banget.’ Batin Tara dalam hari.
Tara berhenti ngelapin muka Reno. Tangannya terkulai di samping tubuhnya. Reno memegang kedua tangan Tara.
“Tara…?”
“Iya…?”
“I LOVE YOU.” Reno mengucapkan kata-kata itu dengan tulus. Tara jadi melayang ke nirwana saking syok dan senengnya.
Gerimis hari ini jadi romantis gara-gara mereka berdua. Cou cwiiiit banget nggak sih. Mereka berdua yang tadinya kaya Tom and Jery kok malah jadi Romeo and Juliete sih? Ternyata the power of love bisa merubah segalanya. Hehehe….!!!
TAMAT
Cerpen by :SHELA AYULIA (shela_ayulia@yahoo.co.id)